--> .::All About Education::.: Rumusan Masalah | Deskripsi Singkat Blog di Sini
Showing posts with label Rumusan Masalah. Show all posts
Showing posts with label Rumusan Masalah. Show all posts

14 January 2014

no image

Teknik Merumuskan Masalah Penelitian (2)

B. Perumusan Masalah Penulisan Karya Ilmiah / Penelitian


         Seringkali terjadi seorang peneliti mengalami kebingungan setelah sekian proses penelitian berjalan. Kebingungan itu diantara lain disebabkan oleh tidak adanya fokus yang jelas dari kasus fenomena atau permasalahan yang sesungguhnya hendak diteliti. Tidak sedikit seorang peneliti tidak mengetahui dengan persis permasalahan, hasil temuan dari peneliti yang telah dilaksanakan. Akibatnya tidak sedikit peneliti yang setelah diuji oleh penguji atau ketika ditanya oleh pemesannya mengalami kebingungan, tahu banyak masalah tetapi tidak mampu mendesain pengetahuan itu menjadi pengetahuan yang bermanfaat. Jujun S. Suriasumantri menyebut peneliti seperti ini (penelitian yang tidak focus) sebagai seorang bangunan, bukan seorang arsitek.

            Perumusan masalah merupakan langkah yang sangat penting bagi seorang peneliti. Masalah yang dirumuskan secara baik dan benar akan sangat membantu. Dari perumusan masalah tersebut, seorang peneliti akan diberitahu apa yang seharusnya mereka lakukan dalam penelitian semenjak pengkajian teori, perumusan hipotesis, pemilihan rancangan penelitian, penentuan peubah penelitian, pemilihan metode, dan alat serta pemilihan teknik analisis yang sesuai.
            Hal tersebut dapat terjadi karena semua aktivitas yang dilakukan peneliti dalam melaksanakan pada hakikatnya adalah untuk mencari jawaban terhadap masalah penelitian yang dirumuskan, oleh karena itu jika masalah telah dirumuskan dengan baik akan lebih mudah bagi peneliti untuk mencarikan jawabannya.
            Amir (2009:78-79) menyatakan bahwa, di dalam suatu penelitian masalah tersebut perlu dirinci dengan cara :
1)      Rumuskan masalah secara jelas, singkat, termasuk konsep-konsep yang digunakan.
2)      Masalah harus dibatasi, bagian mana yang digarap, mengapa bagian itu yang diambil.
3)      Gambarkan pentingnya masalah ;
(a)    Sumbangannya terhadap perkembangan ilmu,
(b)   Kegunaan praktis (bila ada),
(c)    Hubungan dengan penelitian lain, dan
(d)   Kegunaan yang lebih umum.
            Ada beberapa petunjuk umum yang perlu diikuti atau diperhatikan peneliti dalam merumuskan masalah penelitian, antara lain :
1)      Masalah penelitian harus dinyatakan dalam kalimat Tanya;
2)      Kalimat (kalimat Tanya) tersebut harus singkat, jelas, dan operasional;
3)      Inti masalah tampak jelas dan tidak merupakan pertanyaan yang membingungkan.
            Perumusan masalah merupakan pertanyaan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti, yang didasarkan pada pembatasan masalah. Rumusan masalah dinyatakan dengan kalimat pertanyaan.
            Namun disisi lain rumusan masalah sebenarnya juga dapat dirumuskan dalam kalimat pernyataan. Sebagai contoh rumusan masalah tentang penelitian yang berjudul “Kajian Kinerja Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) Di Lima Wilayah Contoh Pelaksanaan Program PMT-AS: Studi Kasus Provinsi Sulawesi Selatan” yang disusun oleh Aswatini Raharto, Yulfita Raharjo dan Bayu Setiawan (1998:4) merumuskan masalah sebagai berikut:

PMT-AS yang baru berjalan satu tahun ini, masih terlalu dini untuk dilihat hasilnya. Akan tetapi konsep serta kinerja pelaksanaan program perlu terus dicermati dan dikembangkan dalam usaha mencari bentuk yang lebih tepat dalam penyelenggaraannya. salah satu perspektif yang perlu diketahui dan diakomodasi dalam kinerja penyelenggaraan PMT-AS, adalah tanggapan dari peserta yang terlibat langsung dengan program, khususnya ditingkat masyarakat. Dengan demikian tanggapan mereka, baik dalam bentuk aspirasi, keinginan, keperluannya, saran-saran, diharapkan menjadi masukan yang berguna sekali dalam penyempurnaan kinerja perencanaan, maupun pelaksanaan program termasuk didalamnya kelembagaan yang mengelola program. Hal ini mengingat PMT-AS adalah program dari atas, yang dirumuskan secara nasional, untuk diterapkan diseluruh wilayah Indonesia; sedangkan masyarakat kita mempunyai keragaman yang amat besar, baik dilihat dari segi tipe masyarakat, sosial budaya, perkembangan sosial-ekonomi dan dari segi aksesibilitas, yang masing-masing dapat mempengaruhi aplikasi PMT-AS.


            Contoh perumusan masalah lain yang berupa kalimat pernyataan (statement) seperti yang diunduh dari http://morningcamp.com/?p=143 misalnya:
1.      “Belum diketahui tentang gambaran fenomena secara khusus; atau belum diketahui diskripsi fenomena secara khusus”.
2.      Belum dapat dijelaskan tentang terjadinya fenomena; atau belum diketahui tentang eksplansi dari terjadinya fenomena”.
3.      “Belum diketahui derajat keberadaan fenomena pada situasi  dan kondisi tertentu.”
           
            Untuk dapat merumuskan masalah penelitian secara tajam, peneliti harus :
1)      Menguasai teori
2)      Banyak membaca
3)      Memiliki daya observasi yang jeli
4)      Mengetahui pendekatan apa yang digunakan dalam memecahkan masalah
5)      Pendekatan tergantung pada masalah penelitian.
            Adapun tujuan dari perumusan masalah adalah :
1)      Mencari sesuatu dalam kerangka pemuasan akademis seseorang.
2)      Memuaskan perhatian atau keingintahuan seseorang tentang hal-hal yang baru.
3)      Meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya.
4)      Memenuhi keinginan sosial.
5)      Menyediakan sesuatu yang bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA
Amir. 2009. Dasar-dasar Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press.
Aswatini Raharto, Yulfita Raharjo dan Bayu Setiawan. 1998. Kajian Kinerja Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) Di Lima Wilayah Contoh Pelaksanaan Program PMT-AS: Studi Kasus Provinsi Sulawesi Selatan. Jakarta: Puslitbang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
http://morningcamp.com/?p=143 diakses pada tanggal 04 Mei 2011.
http://sylvie.edublogs.org/2007/05/08/merumuskan-masalah-penelitian/ diakses pada tanggal 03 Mei 2011.
no image

Teknik Merumuskan Masalah Penelitian (1)

A. Permasalahan dalam Karya Ilmiah atau Penelitian




               Kegiatan penelitian diperoleh dengan adanya masala dan diakhiri dengan adanya masalah baru. Dengan demikian penelitian diawali dengan masalah dan diakhiri dengan masalah pula. Oleh karena itu, tidak salah seorang promotor bertanya kepada promovendusnya dengan pertanyaan :
“Apakah masalah penelitian anda?” dan para penguji bertanya kepada mahasiswa yang diuji dengan pertanyaan : “Apa masalah penelitian anda?”.
            Kinayati (2004:33) menyebutkan bahwa karya penelitian dilakukan karena ada masalahnya. Suatu masalah tidak dapat dijadikan masalah karya penelitian kalau masalah tersebut dapat dijawab dengan “ya” atau “tidak”.
            Para peneliti sering beranggapan bahwa penelitian kegiatan mengumpulkan data atau fakta. Tidak sedikit peneliti (pemula) yang bersemangat mengumpulkan data tanpa mengetahui permasalahan yang sesungguhnya yang hendak dipecahkan, ditemukan, atau diverifikasi setelah data terkumpul, ia tidak tau apa yang dilakukan, bahkan setelah hasil penelitiannya dilaporkan, tetap saja tidak mengerti apa yang sesunguhnya ia tulis. Dalam hal ini, Poncare (1952:143) mengemukakan, tanpa gagasan yang tersusun terlebih dahulu, sebuah penelitian akan sia-sia belaka.
            Kerlinger (2000:26) mengemukakan, seorang peneliti tidak selalu dapat merumuskan masalah secara sederhana, jelas, dan lengkap. Mungkin peneliti hanya memiliki gagasan yang agak umum, belum bulat, bahkan membingungkan tentang masalah itu. Seorang peneliti perlu melakukan penjelajahan atau eksplorasi pemikiran dan peneliti yang sungguh belum dapat menyatakan dengan jelas permasalahan yang diangkat dan merumuskan dengan baik pernyataan yang memadai tentang masalah penelitian adalah satu diantara bagian terpenting. Memang tidak ada kesepakatan mengenai kapan seseorang peneliti dapat mengemukakan masalah yang lengkap. 
            Kesulitan dalam menemukan masalah yang baik bukan disebabkan ketiadaan masalah itu sendiri, sebab masalah dalam penelitian bersifat tak terbatas, peneliti yang sedang mencari masalah dapat ibaratkan seorang yang sedang berbelanja dipasar besar atau super market; bukan barangnya yang tidak ada, sulit dicari atau tidak ada barang yang menarik, melainkan memilih barang yang dapat menjawab persoalan kebutuhan yang paling mendasar (primer) berdasarkan kemampuan, keuntungan, pengetahuan terhadap barang itu sendiri, keterbatasan waktu dan sebagainya.
            Kapabilitas dan kreadibilitas seorang peneliti bukan hanya ditentukan oleh jam terbang atau frekuansi melakukan penelitian, melainkan juga oleh kemampuan memilih masalah penelitian yang layak diteliti.menurut Lincoln Guba (1985), yang disebut masalah penelitian adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antar dua factor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.
            Masalah penelitian tidak pernah berdiri sendiri melainkan selalu terkait, dan terdapat konstelasi dengan factor-faktor lain. Misalnya, latar belakang politik, historis, social dan budaya. Hal-hal inilah yang menjadi latar belakang penelitian. Secara operasional, suatu gejala baru dapat dikategorikan sebagai masalah bila gejala tersebut berada dalam situasi tertentu. Seorang pejalan kaki di atas trotoar dijalan yang ramai bukan merupakan masalah, tetapi akan menjadi masalah bila pejalan kaki ini berjalan di tengah jalan yang ramai atau di tengah jalan raya.
            Faktor-faktor dalam konstelasi yang bersifat situasional inilah maka kita dapat mengidentifikasi obyek yang menjadi masalah. Identifikasi masalah adalah tahap awal dari penguasaan masalah di mana suatu obyek dalam suatu jalinan situasi tertentu dapat kita kenali sebagai suatu masalah, seperti contoh di atas, seorang pejalan kaki di tengah jalan raya dan menimbulkan kemacetan lalu lintas dengan cepat dapat kita kenali sebagai suatu masalah.  
            

Adapun cara mengemukakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan peneliti dalam menemukan masalah, yaitu sebagai berikut :

1.      Membaca sebanyak-banyaknya literature yang berhubungan dengan bidang kita.
2.      Menghadiri kuliah atau ceramah professional
3.      Mengadakan pengamatan dari dekat situasi atau kejadian-kejadian disekitar kita.
4.      Memikirkan kemungkinan penelitian dengan topic-topik atau pelajaran yang didapati waktu kuliah.
5.      Menghadiri seminar hasil penelitian
6.      Mengadakan penelitian-penelitian kecil dan catat hasil-hasil penemuan yang diperoleh.
7.      Menyusun penelitian dengan penekanan pada isi dan metodologinya.
8.      Mengunjungi berbagai perpustakaan untuk memperoleh topic yang dapat diteliti.
9.      Berlangganan jurnal atau majalah yang berhubungan dengan kita.
10.  Mengumpulkan bahan yang berhubungan dengan bidang kita.