Learning to Know, to do, to be & to live together| ©Sudarsono

Kamis, 21 Juni 2012

Karakteristik Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI)


 Menurut Bannet (1991) dan Jacobs (1996) karakteristik pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

            1.        Saling Ketergantungan secara Positif
Saling ketergantungan secara Positif adalah perasaaan antar kelompok siswa untuk membantu setiap orang dalam kelompok tersebut. Saling ketergntungan secra positif berarti bahwa anggota-anggota kelompok merasakan bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama” (Bennet, 1991; Jacob, 1999; Jacob, 1996). Cara-cara mempromosikan saling lketergantungan secara positif dalam kelompok meliputi: tujuan, penghargaan, peranan, sumber, dan identitas.

2.        Tanggung Jawab Individu
Satu hal yang sering terjadi pada saat siswa bekerja dalam kelompok alah adanya beberapa anggota kelompok yang mengakhiri semua pekerjaannya, hal ini dapat terjadi karena beberapa siswa mencoba menghindari bekerja atau karena yang lain ingin mengerjakan semua pekerjaan kelompok. Jadi mendorong setiap orang dalam kelompok untuk berpartisipasi dan belajar adalh suatu unsur yang sangat real dalam pembelajaran kooperatif

3.        Pengelompokkan secara Heterogen
Beberapa pakar pembelajaran kooperatif merekomedasikan bahwa pengelompokkan para siswa secara heterogen menurut prestasi, kecerdaasan, etnik, dan jenis kelamin dapat dilakukan oleh guru. Mencampurkan siswa berdasarkan prestasii didorong untuk mempromosikan sistem tutur teman sebaya, mengelompokkan siswa yang berprestasi rendah dengan model kebiasaan yang baik, dan memperbaiki hubungan antar para siswa.

4.        Ketrampilan-ketrampilan Kolaboratif
Ketrampilan-keterampilan kolaboratif sangat penting dimiliki oleh siswa tidak hanya untuk memperoleh kesuksesan mencapai prestasi maksimal di sekolah, tetapi juga untuk mencapai sukses dalam karir di lusr sekolah bersama teman dan keluarga mereka maupun dengan orang lain.

5.        Pemrosesan Interaksi Kelompok
Merupakan waktu yang diberikan sebagai kesempatan bagi siswa mendiskusikan bahgaimana kelompok mereka bekerjasama. Pemrosesan innteraksi kelompok ini membantu kelompok belajar untuk berkolaborasi dengan lebih efektif. Hal ini dapat ditetapkan selama atau di akhir kegiatan,
Pemrosesan interaksi kelompok memiliki dua aspek (Jacob, 1996). Pertama, menjelaskan tentang keberfundian kelompok. Kedua, kelompok akan mendiskusikan apakah interaksi mereka perlu diperbaiki.

6.        Interaksi Tatap Muka (face-to-face interaction)
Para siswa akan berinteraksi secara langsung antara satu dengan yang lain sementara mereka bekerja. Mereka mungkin berkomunikasi secara verbal dan/ atau nonverbal. Interaksi akan terjadi antar siswa. Ketika para siswa ditanyakan untuk bekerja secara independen untuk seperangkat masalah, mereka secara real mencari dan menemukan jawaban sendiri-sendiri dan kemudian berjumpa dalam kelompok untuk mendiskusikan jawaban-jaawaban tersebut. Teknik ini mencirikan interaksi tatap muka, yang sekaligus membedakannya dengan iklim pemnbelajaran individualistik.

0 komentar:

Posting Komentar