Learning to Know, to do, to be & to live together| ©Sudarsono

Minggu, 26 Juni 2011

Cara Mengaitkan Pengajaran dan Pembelajaran

Banyak cara efektif untuk mengaitkan pengajaran dan pembelajaran dengan konteks situasi sehari-hari siswa. Beberapa metode perlu disoroti untuk menentukan metode yang paling efektif untuk menyatukan isi akademik dengan pengalaman pribadi siswa. Ada empat metode yang dapat diterapkan untuk siswa Sekolah dasar, yaitu :
a.       Ruang kelas tradisional yang mengaitkan materi dengan konteks siswa.
      Guru adalah pemimpin di ruang kelas. Sebagai pemimpin, guru di sebuah ruang tradisional dapat menghubungkan informasi baru dengan kehidupan siswa melalui banyak cara yang penuh dengan makna.
      Guru yang berbakat mengubungkan isi dengan konteks dengan cara yang tak terhitung, bergantung pada tujuan belajar mereka dan siswa mereka. Beberapa pendekatan yang terkenal antara lain adalah mengundang pembicara tamu yang ahli; memberiakn waktu kepada siswa untuk mengajar dengan menceritakan pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri; mengajar materi yang sama dengan cara yang dapat diterima oleh kecerdasan dan gaya belajar yang berbeda.; melakukan simulasi.
      Contoh pengaitan di dalam kelas :
Anak-anak sekolah dasar meneliti beberapa pelukis, seperti Rembrandt, Van Gogh, Monet, Winslow Homer, dll. Dalam kelas, mereka menghabiskan sebagian besar waktu untuk menggambar sesuai dengan gaya pelukis yang sedang dipelajari dengan menggunakan krayon dan kapur tulis. Pada akhir pelajaran kesenian, setiap anak memilih seorang pelukis yang karyanya paling disenangi untuk ditiru. Lalu, anak-anak tersebut pergi ke kantin sekolah saat sedang kosong dan mendapayi kertas kosong yang sangat panjang dan luas tergantung di sana. Setiap siswa melukis sebuah ganbar di kertas tersebut, meniru karya pelukis yang sudah mereka tentukan. Saat semua selesai menggambar, para siswa mundur untuk membicarakan karya mereka. Mereka termotivasi saat mengetaui lukisan mereka akan menghiasi kantin selama dua minggu.
>   Sebuah simulasi yang diadakan sebuah sekolah mengenai kejadian-kejadian yang memicu Perang Dunia II meminta siswa untuk mewakili negara-negara yang ikut serta dalam PD II. Setiap kelompok mengangkat seorang menteri luar negeri, seorang wakil menteri, dan seorang asisten menteri. Tugas mereka adalah bertemu dan berunding mencari upaya untuk menghindari perang yang akan terjadi. Para siswa mempelajari situasi dunia sebelum pecahnya perang, memeriksa tujuan dari setiap negara, dan mempelajari dampak sekutu atas dimulainya Perang Dunia II.
b.      Penambahan atau penyisipan mata pelajaran yang berbeda
Caranya
Pililah bidang yang ingin Anda masukkan dalam mata pelajaran anda
- Temui dan kumpulkan informasi dari instruktur di bidang tersebut. Tanyakan mengenai tujuan belajar, tugas-tugas khusus dan teknik-teknik penilaian.
Gunakan informasi ini untuk membuat daftar tujuan belajar – keterampilan dan kompetensi – yang diharapkan didapat oleh para siswa dari mata pelajaran tersebut. Bandingkan dengan tujuan belajar Anda sendiri
Masukkan materi yang dapat memenuhi tujuan belajar dari kedua mata pelajaran. Pemikiran kritis, keterampilan berkomunikasi, dan kerja tim.
c.       Mata pelajaran yang saling berhubungan (Linked course)
      Adalah mata pelajaran terpisah yang disatukan oleh materi yang saling melengkapi dan topik yang sama. Meskipun setiap mata pelajaran memiliki tujuan, penilaian dan nilai akhir yang terpisah, isi setiap pelajaran dihubungkan sedemikian rupa hingga memberikan konteks pelajaran yang kaya. Mata pelajaran yang saling berhubungan, mata pelajaran terpisah yang proyek tugasnya sama, memungkinkan para siswa untuk melihat bagaimana satu mata pelajaran berhubungan dengan mata pelajaran lain. Dengan membuat hubungan-hubungan ini, anak-anak muda memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menampilkan gaya belajar dan bakat mereka yang unik.
      Contohnya : di Helena Middle School di Helena, Montana, semua guru kelas tujuh setuju bahwa di dalam ruang kelas masing-masing, mereka akan menyisihkan waktu beberapa jam untuk mengajar materi yang mirip dengan tugas memproduksi mainan. Setelah menerima peralatan dasar yang dibutuhkan untuk membangun mesin yang dapat menjalankan mobil mainan dari Perkumpulan Insinyur otomotif (The society of Automotif Engineers),sekolah membagi kelas tujuh menjadi kelompok-kelompok dan memberi tugas mendesain dan membuat mobil mainan bermesin yang menarik bagi anak-anak kepada setiap kelompok. Dalam kelompok yang beranggotakan empat atau lima orang, para siswa mewawancarai anak-anak di sekolah dasar terdekat atau mencari tahu apakah mereka lebih senang mobil mainan yang berjalan pelan dan dapat melewati jalanan menanjak atau mobil mainan yang bergerak cepat dipermukaan yang datar. Dengan menggunakan informasi tersebut, setiap kelompok mulai bekerja. Para siswa menggunakan matematika untuk menghitung yang dinamakan rasio persnelling. Mereka menyusun pertanyaan-pertanyaan untuk ditanyakan kepada anak sekolah dasar dan membuat catatan tertulis dari penemuan-penemuan mereka. Kemudian, setiap tim mendesain mobil yang diyakini akan sangat disenangi oleh anak-anak. Mobil yang telah jadi dievaluasi oleh juri yang terdiri dari orang-orang dewasa. Juri-juri ini mempertimbangkan gaya pegas mobil, mutu bodi mobil, yang dibuat dengan tangan, dan kejelasan instruksi pengoperasian mobil. Mereka juga menilai penampilan saat mobil-mobil tersebut bertanding dengan yang lain.
d.      Mata pelajaran terpadu
      “Terpadu” berarti mata pelajaran yang diciptakan dengan mengombinasikan satu atau displin ilmu yang berbeda. Mata pelajaran terpadu ini biasanya diajar secara tim, dengan serangkaian tujuan dan penilaian yang sesuai dengan gabungan dari disiplin ilmu yang digabungkan. Kadang-kadang matapelajaran ini disebut “multidisipliner”. “lintas-kurikulum”. Mata pelajaran terpadu sesuai dengan kebutuhan otak untuk menyusun pola dalam menentukan makna.
      Dalam kelas terpadu, para siswa menemukan bahwa pengetahuan saling melengkapi dan terjalin; tidak ada batas, tidak ada perbedaan yang dibuat-buat. Mata pelajaran terpadi menyatukan mata pelajaran yang berbeda ke dalam satu-kesatuan makna dan mengaitkannya dengan kehidupan siswa. Mata pelajaran terpadu, dapat berhasil dengan baik apabila mata pelajaran ini menggabungkan semua komponen dari system pengajaran dan pembelajaran kontekstual. Komponen-komponen CTL menjamin bahwa mata pelajaran terpadu adalah pengalaman yang berpusat pada siswa, mengakomodasi siswa dari kebudayaan dan latar belakang yang berbeda, dan cocok dengan beragam minat, bakat dan gaya belajar.
                        Bisa dikatakan pengaitan paling ampuh adalah pengaitan yang mengundang siswa untuk membuat pilihan, menerima tanggung jawab, dan memberikan hasil penting bagi orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar