Learning to Know, to do, to be & to live together| ©Sudarsono

Jumat, 27 April 2012

Apakah Pengawasan Distribusi Soal UN Berlebihan?

Postingan saya kali ini terinspirasi dari sebuah website berita terkemuka VoA Indonesia pada tanggal 16 April yang lalu. Khususnya salah satu artikelnya yang berjudul “Mekanisme Pengawasan Distribusi Soal Ujian Nasional Dinilai Berlebihan”. Dalam berita tersebut seorang Anggota Komisi X DPR RI Nasruddin menyatakan bahwa dengan adanya polisi dan tentara yang ikut sampai ke ruang kelas dinilainya terlalu berlebihan.

Source: http://www.voaindonesia.com

“(Ini) akan mempengaruhi secara psikologis terhadap anak-anak yang mau ujian, seolah-olah ada apa ini, kok ujian begitu semacam ada kebocoran, padahal sesungguhnya tidak demikian. Ini kelihatanya terlalu over, sehingga saya khawatir”.
Setujukah anda dengan pendapat di atas?

Memang tidak bisa di pungkiri dengan adanya pengawasan yang ketat tersebut mempengaruhi psikologis siswa. Namun jika hal tersebut sudah di katakan sebelumnya kepada siswa, dan siswa sudah mempersiapkan dengan matang maka seketat apapun pengawasan yang dilakukan pasti tak akan banyak berpengaruh. Selain itu dengan adanya pengawasan yang ketat tersebut maka akan meminimalisir terjadinya segala bentuk kecurangan. Menurut saya yang terpenting adalah membangun kepercayaan diri siswa akan kemampuan yang dimilikinya, sehingga hasil yang diperoleh pun memang merupakan hasil pemikirannya sendiri.

Sebagai seorang calon tenaga pendidik, saya sediri setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Denpasar Drs. I Nyoman Purnajaya dalam berita VoA Indonesia tersebut:
“Mungkin saja itu terjadi secara keseluruhan pada siswa, tetapi saya belum mendapat laporan, mungkin seperti tadi saya katakan hal-hal kecil seperti itu tidak sampai di laporkan ke kepala sekolah, mungkin dengan guru dan pada orang tua mereka, kami berusaha membangun rasa percaya diri anak-anak kami”.
Meskipun faktanya belum ada laporan yang masuk ke kepala sekolah mengenai laporan ini, namun saya yakin tekanan psikologis itu pasti ada. Setidaknya hal itulah yang telah saya alami beberapa tahun yang lalu. Namun tekanan psikologis itu tidak akan ada artinya jika rasa percaya diri kita telah terbangun dengan kokoh dan kita sudah mempersiapkannya dengan matang.

Berita inilah yang kemudian membuka kembali ingatan saya akan kejadian yang sama 4 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2008. Saat itu saya juga menempuh Ujian Nasional dengan ketentuan-ketentuan pemerintah yang baru. Simaklah cerita singkat saya mengenai ujian nasional saya berikut ini:

Saat itu saya harus terbentur dengan aturan-aturan pemerintah yang baru untuk pelaksanaan UAN tahun itu. Dari semula hanya 3 mata pelajaran ( Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika) yang di Ujian Nasionalkan pada tahun 2007, menjadi 6 mapel pada tahun 2008. Tiga tambahan bidang studi tersebut adalah bidang studi pokok dari jurusan yang di ambil. Karena saya mengambil jurusan IPA, maka mapel tambahan yang harus saya hadapi dalam Ujian Nasional saat itu adalah Fisika, Kimia dan Biologi. Semua itu akan menjadi musuh yang harus a takhlukkan untuk mencapai titik puncak tiga tahun studiku di SMA. Semua itu terasa kian berat setelah standar ketuntasan yang semula 4,25 menjadi 5,25 di tahun 2008.

Source: http://id.wikipedia.org

Tidak mudah memang untuk menghadapi itu semua. Semua orang pasti mengharapkan saya bisa lulus dalam Ujian Akhir tersebut. Ayah, Ibu, kakak, keluarga yang lain serta guru-guru di sekolahku semua pasti mengharapkan yang terbaik. Sehingga keinginan dan harapan yang begitu besar disematkan dipundakku, sehingga hal itu semakin memberatkan langkahku, lebih tepatnya kami semua siswa SMA dalam menghadapi pertempuran tersebut.

Jauh sebelum minggu menentukan itu tiba, kami semua terus di gembleng dengan latihan, latihan dan latihan. Semua itu dilakukan dengan tujuan agar kami semua dapat terbiasa dengan kondisi saat UAN yang sebenarnya nanti. Belum lagi ada les tambahan dari sekolah serta bimbingan belajar membuat hari-hariku selalu dipenuhi dengan banyaknya angka-angka, rumus fisika, serentetan gramar Bahasa Inggris yang membingungkan, teks-teks bacaan yang panjang dan sebagainya. Kadang rasa bosan, jenuh menyelimuti pikiranku, namun itu semua terkalahkan dengan rasa khawatirku akan hari penghakiman itu memaksaku untuk terus melakukan aktivitas tersebut. Sehingga saat itu saya berada di bawah tekanan atau bahasa inggrisnya under pressure kalau gak salah.

Sempat beredar kabar juga tentang adanya joki-joki yang siap mentransfer kunci jawaban melalui sms. Namun apa saya bisa melakukannya? Saat itu saya belum mempunyai handphone, atau pinjam punya saudara? Ah saya belum terbiasa pakai hp pasti akan grogi saat melihat nanti. Maka tamatlah riwayatku, jika sampai terpergok nanti. Belum lagi asal muasal dari si joki tadi, apakah bisa dipercaya tau tidak. Sehingga muncullah pertanyaan yang selalu mengisi pikiranku, “Apakah saya besok akan bisa berkutik (menyontek) saat ujian? Informasi seputar ujian nasional pun terus kami dapatkan, seperti tim pengawas ujian yang akan disilang dari SMA lain, ditambah lagi adanya tim Independent yang berasal dari dosen maupun mahasiswa pada saat itu.

Guru-guru di sekolah saya pun satu persatu berpesan, bahwa mereka tidak akan bisa berbuat banyak pada saat ujian nanti. Mereka menyampaikan bahwa naskah soal ujian nasional baru akan sampai di sekolah saya tersebut pada malam sebelum hari pertama ujian akhir nasional dimulai. Menanggapi isu yang beredar, mereka menghimbau untuk tidak mudah percaya dengan orang yang menjanjikan kunci jawaban itu. Selain belum tentu kebenarannya joki-joki itu juga meminta imbalan sejumlah uang yang fantastis menurut saya. Mereka selalu berdo’a yang terbaik bagi kami.

Sistem pengawasan yang ketat itulah yang akhirnya membuang pikiran-pikiran negatif saya. Saya tak mau masa depanku hancur hanya karna ulah kotorku yang sempat terfikirkan sebelumnya. Saya menjadi sadar bahwa saya tidak dapat mengandalkan orang lain, saya harus percaya dengan kemampuan yang saya miliki. Rasa percaya itu kian tumbuh dan membesar lagi setelah sekolah mengadakan semacam pelatihan IESQ. Saat itulah untuk pertama kalinya saya mendapatkan pelatihan itu. Kegiatan yang sangat berkesan, yang membuat saya dan sebagian besar siswa meneteskan air mata. Namun hal itu mampu membakar dan memompa semangatku untuk siap sedia bertarung menghadadapi ujian tersebut.

Menyadarkanku bahwa, harapan mereka bukanlah sebuah harapan tanpa dasar, setelah semua yang telah mereka lakukan pada saya. Orang tuaku yang tlah membesarkanku, yang selalu mendoakanku tiap waktu, mencarikan nafkah untukku tak peduli siang dan malam tanpa memperdulikan kondisi mereka sendiri, dan kakakku yang selalu siap sedia untuk membimbingku, serta apa yang telah guruku ajarkan kepadaku selama tiga tahun di sekolah. Semua itu tak akan ada artinya jika saya tidak dapat menyelesaikan babak final saat itu.

Singkat cerita akhirnya saya dapat memenangkan pertarungan itu, saya LULUS! Keberhasilan tersebut diikuti dengan teman-teman yang lain. Saat itu sekolahku dapat lulus 100%, kekhawatiran yang dulu kualami akhirnya berubah jadi kebahagiaan melihat hasil yang telah diperoleh.
----:.:.:-----

Nah dari sudut pandang itulah maka saya menilai tidak ada yang berlebihan dari semua tindakan pengawasan di Bali tersebut. Semua itu dilakukan semata-mata untuk meminimalisir kecurangan-kecurangan yang mungkin terjadi. Kejadian itu justru mungkin dilakukan karena dinas pendidikan maupun sekolah tersebut sudah tau jika akan dilakukan peninjauan oleh pejabat negara, sehingga pengamanannya diperketat sampai sedemikian rupa. Padahal seperti diketahui bahwa di daerah-daerah lain, mekanisme pengawasan distribusi ujian nasional justru terlihat longgar, sehingga banyak terjadi kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Akhir Nasional tersebut.

Mari kita buktikan! Lihatlah sebuah status facebook dari akun teman saya pada tanggal 14 April 2012, di bawah ini.
Source: Dokumen Penulis

Untuk identitas dari akun facebook maupun tempatnya sengaja saya kaburkan untuk melindungi privasinya. Nah ketika ditanya lebih lanjut mengenai kejadian tersebut, ternyata itu semua sudah menjadi rahasia umum. Hal itu dilakukan karena pada saat ujiannya nanti akan banyak wartawan maupun LSM yang mengawasi. Dari situ terlihatlah bagaimana morat-maritnya pendidikan di negeri ini. Bahkan suatu kecurangan sudah dianggap hal yang biasa. Jika generasi penerusnya saja sudah di ajari untuk berbuat curang oleh gurunya sendiri, maka apa jadinya negeri ini sepuluh tahun mendatang??

Mutu pendidikan sebenarnya bukan hanya diukur dari hasil UAN semata. Namun kenyataan banyak sekolah yang mempunyai pandangan yang sempit, yang menganggap hasil kelulusan UAN adalah segalanya. Jika hasil kelulusan UAN sempurna maka hal itu akan mengangkat pamor sekolah tersebut. Inilah pola pikir yang salah, yang harus segera kita benahi. Memang untuk mengukur mutu pendidikan salah satu hal yang dapat dijadikan indikatornya adalah dari tingkat kelulusan serta standar ketuntasan yang telah ditentukan. Namun jika hal itu digunakan maka sudah sepantasnya selain mekanisme pengawasan saat ujian, mekanisme pengawasan distribusi soal ujian merupakan hal yang sangat penting.

Atas dasar pengalaman dan fakta itulah maka menurut pendapat saya mekanisme pengawasan distribusi soal ujian tidak ada yang salah. Jika memang benar pengawasan distribusi soal ujian di Bali seperti itu di semua sekolah, maka memang seperti itulah seharusnya dan dapat dicontoh oleh sekolah-sekolah lain di Indonesia. Semoga memang pemerintah melakukan evaluasi lagi terhadap mekanisme pengawasan distribusi soal UN. Sehingga kejadian seperti yang terjadi di daerah yang saya maksudkan di atas, tidak akan terulang lagi. Semoga dunia pendidikan Indonesia dapat mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, serta jujur.

Bagaimana pendapat anda? Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini.

Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Semoga pendidikan di Indonesia semakin baik lagi. Semoga sukses ya. Mohon beri komentar pada tulisanku yang ini - Memanusiawikan Lingkungan Sungai Ciliwung dan Sekitarnya dan yang ini - Indonesia mendunia lewat Gamelan

    BalasHapus
  2. Amiin.,
    Thanks dah mampir gan..
    Siap ke TKP.. :)

    BalasHapus